Dalam kitab Zubdatul Asrar, Syekh Yusuf Al-Maqassari tidak hanya menyajikan konsepsi dan teori ketuhanan, tetapi juga menyediakan “peta jalan” atau metodologi praktis bagi seorang salik (penempuh jalan spiritual). Beliau menekankan bahwa mengenal diri tidak bisa dicapai hanya dengan logika, melainkan harus melalui pengalaman rasa (dzauq) dan pembersihan jiwa (tazkiyatun nafs).
Berikut adalah rangkuman metode praktis atau peta jalan dari Syekh Yusuf al-Maqassary untuk mencapai derajat tertinggi “Mengenal Diri”:
Pertama, Dzikir Nafi Isbat (Penyucian Tauhid). Metode utama yang ditekankan dalam Zubdatul Asrar adalah zikir kalimat tauhid: Laa Ilaha Illallah. Namun, Syekh Yusuf memberikan teknik kedalaman batin dalam melafalkannya, yaitu:
(1) An-Nafi (Penafian). Saat mengucapkan Laa Ilaha, seorang hamba harus menafikan atau “membuang” segala sesuatu selain Allah dari hatinya. Ini termasuk harta, takhta, ego, hingga eksistensi dirinya sendiri.
(2) Al-Isbat (Penetapan). Saat mengucapkan Illallah, hamba tersebut menetapkan hanya wujud Allah yang benar-benar nyata.
Tujuan dari kedua cara ini tentu adalah untuk mencapai kondisi dimana hati benar-benar kosong dari “tuhan-tuhan kecil” (nafsu dan dunia), sehingga yang tersisa hanya cahaya Allah.
Kedua, Meditasi Muraqabah (Kesadaran Kehadiran). Syekh Yusuf menyarankan praktik Muraqabah, yaitu latihan kesadaran di mana seorang hamba senantiasa merasa “dilihat” dan “diawasi” oleh Tuhan.
Latihan Batin yang dimaksud adalah yang secara praktis, ini dilakukan dengan cara duduk tenang, memejamkan mata, dan memusatkan seluruh perhatian pada pusat hati (qalb), dilanjutkan dengan Afirmasi Makna, yaitu menghadirkan keyakinan dalam hati bahwa “Allah bersamaku, Allah melihatku, Allah menyaksikanku.” Hal ini jika dilakukan secara konsisten, maka rasa kehadiran Tuhan akan mendominasi kesadaran hamba tersebut hingga ia “lupa” akan eksistensi raganya sendiri.
Ketiga, Konsep Mautu al-Ikhtiyari (Mati Sebelum Mati). Ini adalah metode meditasi yang sangat mendalam dalam tradisi Tarekat Khalwatiyah yang dibawa beliau. Bukan berarti mati secara fisik, melainkan mematikan keinginan nafsu.
Seorang penempuh jalan spiritual diajak untuk memandang dirinya sebagai “mayat” yang tidak memiliki daya dan upaya di hadapan Allah. Syekh Yusuf menjelaskan bahwa dengan mematikan kehendak diri (ikhtiyar), maka kehendak Tuhanlah yang akan bekerja melalui dirinya. Inilah jalan pintas untuk mengenal hakikat diri sebagai hamba sejati.
Keempat, Dzikir Sirr (Dzikir Rahasia di Dalam Hati). Setelah lidah terbiasa dengan zikir lahiriah, Syekh Yusuf mengarahkan muridnya pada zikir sirr. Dzikir yang dilakukan tanpa suara dan tanpa gerakan bibir. Nama “Allah” digetarkan di dalam relung hati yang paling dalam sesuai dengan irama detak jantung atau nafas. Hal ini dimaksudkan untuk mengikat ingatan kepada Tuhan secara permanen (da’imun) dalam setiap tarikan nafas, baik saat bekerja, berjalan, maupun tidur.
Kelima, Pengasingan Diri yang Produktif (Khalwat). Meskipun beliau aktif secara sosial dan militer, Syekh Yusuf menekankan pentingnya waktu untuk menyendiri guna melakukan refleksi mendalam. Dalam Kitab Zubdatul Asrar, berkhalwat yang dimaksud bukan berdiam di dalam gua atau hutan, melainkan “menyepi di tengah keramaian” (khalwat dar anjuman). Hatinya bersama Tuhan, sementara tangannya bekerja untuk sesama manusia.
Jadi, disini tentu akan ditemukan Sintesis Ilmu dan Amal. Metode Syekh Yusuf dalam Zubdatul Asrar bersifat integral. Beliau tidak menyarankan meditasi yang membuat seseorang meninggalkan syariat. Sebaliknya, zikir dan meditasi tersebut adalah alat untuk memperkuat kualitas ibadah lahiriah. Orang yang telah mencapai tingkat tertinggi “Mengenal Diri” melalui metode-metode di atas akan memiliki sifat “Tawadhu” yang ekstrem karena ia tidak lagi melihat ada “aku” yang hebat, melainkan hanya melihat keagungan Allah di mana-mana. (*)