Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

Related Post: Konsepsi Syekh Yusuf dalam Mendekatkan Diri kepada Allah

MAJELISILMU.COM – Apa makna kedalaman dari perkataan, “zubdatul asrar” yang sekaligus menjadi nama kitab karangan Syekh Yusuf ‘Tuanta Salamaka’ al-Maqassary? Ya, secara etimologi, judul kitab Zubdatul Asrar fi Tahqiq Ba’di Masyarib al-Akhyar karya Syekh Yusuf Al-Maqassari memiliki makna yang sangat filosofis dan mendalam.

Kata “Zubdah” (الزبدة), secara harfiah, berarti mentega atau lemak susu. Namun, dalam tradisi literatur Arab klasik, kata ini digunakan sebagai metafora untuk “Saripati”,  “Intisari”, atau “Bagian Terbaik” dari sesuatu. Penggunaan kata ini menunjukkan bahwa kitab “Zubdatul Asrar” ini bukanlah sekadar catatan permukaan. Syekh Yusuf ingin menyampaikan bahwa apa yang ia tulis adalah hasil penyulingan dari ribuan kitab dan pengalaman spiritual yang panjang. Ia menyuguhkan “krim” atau substansi paling murni dari ajaran tauhid.

Sedang kata “Al-Asrar” (الأسرار), ini adalah bentuk jamak dari kata Sirr, yang berarti  “Rahasia”. Dalam terminologi tasawuf, Sirr adalah tingkat kesadaran manusia yang paling dalam, lebih dalam dari ruh, tempat di mana manusia berkomunikasi secara langsung dengan Tuhannya. Syekh Yusuf tidak sedang membicarakan rahasia yang bersifat mistis-teka-teki, melainkan Rahasia Ketuhanan (Hakekat). Beliau membahas tentang bagaimana mengenal diri dan Tuhan pada level yang paling esensial.

Jika digabungkan, Zubdatul Asrar bermakna “Intisari dari Segala Rahasia”. Judul ini menyimpan pesan kuat tentang visi teologis Syekh Yusuf al-Maqassary.

Pertama Tauhid yang Mengakar. Bagi masyarakat Sulawesi Selatan saat itu yang sedang dalam masa transisi kebudayaan, Syekh Yusuf ingin memberikan “Zubdah” (saripati) agar mereka tidak tersesat dalam kulit agama. Kitab ini mengajarkan bahwa inti dari segala rahasia kehidupan adalah pengakuan akan keesaan Allah yang absolut (Wahdatul Wujud dalam perspektif yang terkontrol).

Kedua, Penyucian Jiwa (Tazkiyatun Nafs). Zubdatul Asrar adalah panduan bagi seorang penempuh jalan spiritual (Salik) untuk menemukan “mentega” dalam dirinya—yaitu hati yang bersih dari selain Allah. Tanpa proses “mengocok” jiwa (mujahadah), seseorang tidak akan mendapatkan Zubdah (sari pati) iman tersebut.

Ketiga, Sinkronisasi Syariat dan Hakikat. Syekh Yusuf dikenal sebagai ulama yang sangat menjaga keseimbangan antara hukum lahiriah (syariat) dan kedalaman batin (hakikat). Judul ini menyiratkan bahwa “Rahasia” (Asrar) tidak akan bisa dicapai tanpa melewati “Sari Pati” (Zubdah) pemahaman syariat yang benar.

Jadi, Zubdatul Asrar bukan sekadar nama kitab, melainkan sebuah “Janji Intelektual” dari Syekh Yusuf kepada pembacanya. Ia seolah berkata: “Di dalam kitab yang ringkas ini, aku berikan kepadamu bagian terbaik (Zubdah) dari segala rahasia (Asrar) yang pernah disingkapkan Allah kepada para kekasih-Nya.”

***

Konsep “Mengenal Diri” dalam kitab Zubdatul Asrar adalah jantung dari pemikiran tasawuf Syekh Yusuf Al-Maqassari. Beliau berangkat dari hadis qudsi yang sangat masyhur di kalangan sufi: “Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa Rabbahu” (Barangsiapa mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya). Bagi Syekh Yusuf, mengenal diri bukan sekadar mengetahui nama, silsilah, atau anatomi tubuh, melainkan sebuah perjalanan ontologis untuk menemukan hakikat eksistensi manusia di hadapan Sang Khaliq.

Pertama, Diri sebagai Cermin Tuhan (Al-Mir’ah). Syekh Yusuf menjelaskan bahwa manusia adalah mazhar (tempat penampakan) yang paling sempurna bagi sifat-sifat Tuhan. Dalam Zubdatul Asrar, beliau menggambarkan diri manusia sebagai cermin. Hakikatnya jika cermin itu bersih (hati yang suci), maka ia akan memantulkan cahaya ketuhanan secara jernih. Maknanya tentu bahwa mengenal diri berarti menyadari bahwa segala kelebihan, kekuatan, dan keberadaan yang ada pada kita bukanlah milik kita, melainkan pantulan dari sifat-sifat Allah.

Kedua, Ketiadaan Diri (Al-Fana’). Salah satu poin paling tajam dalam Zubdatul Asrar adalah penekanan bahwa untuk mengenal diri yang sejati, seseorang harus “meniadakan” diri yang palsu. Apa itu Diri yang Palsu? Tak lain adalah Ego, kesombongan, dan perasaan bahwa kita memiliki wujud yang mandiri.

Syekh Yusuf mengajarkan bahwa kita harus sampai pada kesadaran bahwa diri kita adalah adam (tiada). Kita ada hanya karena diadakan oleh Wujud Yang Hakiki (Allah). Inilah puncak dari pengenalan diri: menyadari ketidakberdayaan dan kefanaan makhluk.

Ketiga, Hubungan Makrokosmos dan Mikrokosmos. Syekh Yusuf memandang manusia sebagai Alam Saghir (alam kecil) yang merangkum seluruh rahasia Alam Kabir (alam besar/semesta). Dalam Zubdatul Asrar, beliau menekankan bahwa segala sesuatu yang ada di jagat raya ini memiliki representasi dalam diri manusia. Dengan menyelami kedalaman batin sendiri, seorang hamba sebenarnya sedang membaca “peta” rahasia Tuhan yang tersebar di alam semesta.

Keempat, Mengenal Diri melalui Kedekatan (Qurb). Syekh Yusuf menolak pemahaman bahwa Tuhan itu jauh. Mengutip Al-Qur’an, beliau menegaskan bahwa Tuhan lebih dekat dari urat leher. Mengenal Diri disini berari Menyadari Kedekatan

Pengenalan diri dalam Zubdatul Asrar menuntun hamba untuk merasa selalu diawasi (muraqabah) dan selalu bersama Tuhan (ma’iyyah). Seseorang yang mengenal dirinya tidak akan pernah merasa kesepian atau sombong, karena ia tahu sumber keberadaannya menyatu dalam kesadaran batinnya.

Bagi Syekh Yusuf dalam Zubdatul Asrar, mengenal diri adalah “Jalan Pulang”. Manusia berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada-Nya. Tanpa mengenal siapa “diri” yang sedang berjalan ini, manusia hanya akan tersesat dalam rimba duniawi yang fana. Mengenal diri adalah cara untuk memastikan bahwa setiap langkah kehidupan kita adalah langkah menuju perjumpaan yang indah dengan Sang Kekasih Abadi.

***

Dalam kitab Zubdatul Asrar, Syekh Yusuf Al-Maqassari tidak hanya menyajikan konsepsi dan teori ketuhanan, tetapi juga menyediakan “peta jalan” atau metodologi praktis bagi seorang salik (penempuh jalan spiritual). Beliau menekankan bahwa mengenal diri tidak bisa dicapai hanya dengan logika, melainkan harus melalui pengalaman rasa (dzauq) dan pembersihan jiwa (tazkiyatun nafs).

Berikut adalah rangkuman metode praktis atau peta jalan dari Syekh Yusuf al-Maqassary untuk mencapai derajat tertinggi “Mengenal Diri”:

Pertama, Dzikir Nafi Isbat (Penyucian Tauhid). Metode utama yang ditekankan dalam Zubdatul Asrar adalah zikir kalimat tauhid: Laa Ilaha Illallah. Namun, Syekh Yusuf memberikan teknik kedalaman batin dalam melafalkannya, yaitu:

(1) An-Nafi (Penafian). Saat mengucapkan Laa Ilaha, seorang hamba harus menafikan atau “membuang” segala sesuatu selain Allah dari hatinya. Ini termasuk harta, takhta, ego, hingga eksistensi dirinya sendiri.

(2) Al-Isbat (Penetapan). Saat mengucapkan Illallah, hamba tersebut menetapkan hanya wujud Allah yang benar-benar nyata.

Tujuan dari kedua cara ini tentu adalah untuk mencapai kondisi dimana hati benar-benar kosong dari “tuhan-tuhan kecil” (nafsu dan dunia), sehingga yang tersisa hanya cahaya Allah.

Kedua, Meditasi Muraqabah (Kesadaran Kehadiran). Syekh Yusuf menyarankan praktik Muraqabah, yaitu latihan kesadaran di mana seorang hamba senantiasa merasa “dilihat” dan “diawasi” oleh Tuhan.

Latihan Batin yang dimaksud adalah yang secara praktis, ini dilakukan dengan cara duduk tenang, memejamkan mata, dan memusatkan seluruh perhatian pada pusat hati (qalb), dilanjutkan dengan Afirmasi Makna, yaitu menghadirkan keyakinan dalam hati bahwa “Allah bersamaku, Allah melihatku, Allah menyaksikanku.” Hal ini jika dilakukan secara konsisten, maka rasa kehadiran Tuhan akan mendominasi kesadaran hamba tersebut hingga ia “lupa” akan eksistensi raganya sendiri.

Ketiga, Konsep Mautu al-Ikhtiyari (Mati Sebelum Mati). Ini adalah metode meditasi yang sangat mendalam dalam tradisi Tarekat Khalwatiyah yang dibawa beliau. Bukan berarti mati secara fisik, melainkan mematikan keinginan nafsu.

Seorang penempuh jalan spiritual diajak untuk memandang dirinya sebagai “mayat” yang tidak memiliki daya dan upaya di hadapan Allah. Syekh Yusuf menjelaskan bahwa dengan mematikan kehendak diri (ikhtiyar), maka kehendak Tuhanlah yang akan bekerja melalui dirinya. Inilah jalan pintas untuk mengenal hakikat diri sebagai hamba sejati.

Keempat, Dzikir Sirr (Dzikir Rahasia di Dalam Hati). Setelah lidah terbiasa dengan zikir lahiriah, Syekh Yusuf mengarahkan muridnya pada zikir sirr. Dzikir yang dilakukan tanpa suara dan tanpa gerakan bibir. Nama “Allah” digetarkan di dalam relung hati yang paling dalam sesuai dengan irama detak jantung atau nafas. Hal ini dimaksudkan untuk mengikat ingatan kepada Tuhan secara permanen (da’imun) dalam setiap tarikan nafas, baik saat bekerja, berjalan, maupun tidur.

Kelima, Pengasingan Diri yang Produktif (Khalwat). Meskipun beliau aktif secara sosial dan militer, Syekh Yusuf menekankan pentingnya waktu untuk menyendiri guna melakukan refleksi mendalam. Dalam Kitab Zubdatul Asrar, berkhalwat yang dimaksud bukan berdiam di dalam gua atau hutan, melainkan “menyepi di tengah keramaian” (khalwat dar anjuman). Hatinya bersama Tuhan, sementara tangannya bekerja untuk sesama manusia.

Jadi, disini tentu akan ditemukan Sintesis Ilmu dan Amal. Metode Syekh Yusuf dalam Zubdatul Asrar bersifat integral. Beliau tidak menyarankan meditasi yang membuat seseorang meninggalkan syariat. Sebaliknya, zikir dan meditasi tersebut adalah alat untuk memperkuat kualitas ibadah lahiriah. Orang yang telah mencapai tingkat tertinggi “Mengenal Diri” melalui metode-metode di atas akan memiliki sifat “Tawadhu” yang ekstrem karena ia tidak lagi melihat ada “aku” yang hebat, melainkan hanya melihat keagungan Allah di mana-mana. (*)

 

(* Muhammad Farid Wajdi, Pimred majelisilmu.com / berkhalwat di dalam Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini