Oleh: Abu Abdirrohman Yoyok
MAJELISILMU.COM – Al-Imam Ibnul Qoyyim rohimahulloh pernah menyebutkan, bahwa ada 6 (enam) perkara dalam sholat, yang merupakan Tanda-tanda kemunafikan seseorang, yaitu:
1. Malas ketika mengerjakan sholat tersebut.
2. Riya’, suka pamer amal, ingin dilihat orang, lalu ingin mendapatkan pujian atau sanjungan dari mereka) ketika dia mengerjakan sholatnya tersebut.
3. Suka mengakhirkan sholat (berlambat-lambat dalam melakukannya).
4. Mematuk dalam sholatnya (yakni, sholatnya dilakukan dengan cepat, terutama rukuk dan sujudnya, dilakukan dengan sangat cepat, seperti ayam yang mematuk makanannya, atau seperti burung gagak yang mematuk bangkai).
5. Sedikit dalam berdzikir (mengingat Alloh) di dalam sholatnya.
6. Menyelisihi sholat jama’ah di masjid (yakni, enggan sholat berjama’ah di masjid).
Sumber:
Kitab As-Sholah, hal. 80, karya Al-Imam Ibnul Qoyyim rohimahulloh.
ست صفات في الصلاة من علامات النفاق : ١- الكسل عند القيام إليها، ٢- ومراءاة الناس في فعلها، ٣- وتأخيرها، ٤- ونقرها، ٥- وقلة ذكر الله فيها، ٦- والتخلف عن جماعتها. الصلاة لابن القيم (80)
Catatan:
1. Di antara dalil-dalil yang menunjukkan hal itu adalah, firman Alloh subhanahu wa ta’ala:
إِنَّ ٱلْمُنَٰفِقِينَ يُخَٰدِعُونَ ٱللَّهَ وَهُوَ خَٰدِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوٓا۟ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ
قَامُوا۟ كُسَالَىٰ يُرَآءُونَ ٱلنَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ ٱللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا
Artinya:
“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Alloh, dan Alloh akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (QS An-Nisa’: 142)
Juga firman Alloh ta’ala :
Artinya:
“Dan mereka tidaklah mengerjakan sholat, melainkan dengan malas. Dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan.” (QS At-Taubah : 54]
2. Dalil yang menunjukkan, bahwa Orang-orang munafik, suka menunda/mengakhirkan sholat, adalah sebagaimana sabda Nabi shollallohu alaihi wa sallam, ketika ada orang yang sholat Ashar tetapi terbiasa dilakukan hingga menjelang waktu Maghrib (waktu ketika tenggelamnya matahari).
Beliau SAW bersabda:
تِلْكَ صَلَاةُ الْمُنَافِقِ، يَجْلِسُ يَرْقُبُ الشَّمْسَ حَتَّى إِذَا كَانَتْ بَيْنَ قَرْنَيِ الشَّيْطَانِ،
قَامَ فَنَقَرَهَا أَرْبَعًا، لَا يَذْكُرُ اللهَ فِيهَا إِلَّا قَلِيلًا
Artinya:
“Itulah sholatnya orang munafik, (yaitu) duduk mengamati matahari. Hingga ketika matahari berada di antara dua tanduk syetan (yaitu ketika matahari hampir tenggelam/terbenam di waktu Maghrib), dia pun berdiri (untuk mengerjakan shalat Ashar) empat raka’at (dengan cara cepat), seperti patukan ayam. Dia tidak berdzikir untuk mengingat Alloh, kecuali hanya sedikit saja.” (HR. Muslim no. 622)
3. Orang munafik itu, juga enggan dan merasa berat untuk sholat berjamaah di masjid. Sahabat Nabi yang mulia, Ibnu Mas’ud rodhiyallohu ‘anhu pernah berkata:
وَلَقَدْ رَأَيْتُنَا وَمَا يَتَخَلَّفُ عَنْهَا إِلاَّ مُنَافِقٌ مَعْلُومُ النِّفَاقِ وَلَقَدْ كَانَ الرَّجُلُ
يُؤْتَى بِهِ يُهَادَى بَيْنَ الرَّجُلَيْنِ حَتَّى يُقَامَ فِى الصَّفِّ
Artinya:
“Sungguh aku telah melihat di jaman kami dulu (yakni di masa Sahabat), bahwa *tidak ada seorang pun yang menyelisihi atau meninggalkan sholat berjama’ah di masjid, kecuali dia itu adalah orang munafik, yang benar-benar dikenal kemunafikannya. Dan sungguh, dahulu (di masa kami, di jaman para Sahabat), ada seseorang yang dibawa ke masjid, dengan berpegangan pada dua orang (dipapah), dan dia ditegakkan ditengah-tengah shof (barisan sholat di masjid, agar dia bisa tetap mengerjakan sholat berjamaah di masjid. Hal itu karena dia kuatir ada sifat kemunafikan dalam dirinya, pent.)” (HR. Muslim no. 654).
Tentang hadits tersebut di atas, Syaikh Dr. Sholih Al Fauzan hafizhohulloh menjelaskan, “Seseorang yang meninggalkan sholat jama’ah, menunjukkan akan beratnya dia menjalankan sholat. Ini pertanda, bahwa di dalam hatinya terdapat sifat kemunafikan.(Oleh karena itu), agar terlepas dari sifat tersebut (yakni kemunafikan), marilah kita menjaga sholat jama’ah!” (Lihat: Kitab Minhatul ‘Allam fii Syarh Bulughul Maraam (3/365), karya Syaikh Dr. Sholih Al-Fauzan hafidzohulloh)
Sahabat Nabi yang lainnya, ‘Abdulloh bin ‘Umar rodhiyallohu ‘anhuma juga pernah berkata:
كُنَّا إِذَا فَقَدْنَا الإِنْسَانَ فِي صَلاَةِ العِشَاءِ الآخِرَةِ وَالصُّبْحِ أَسَأْنَا بِهِ الظَّنَّ
Artinya:
“Jika kami tidak melihat seseorang dalam Shalat ‘Isya’ dan shalat Shubuh (berjamaah di masjid), maka kami mudah untuk su’udzon (berprasangka jelek) kepadanya (yakni menganggapnya sebagai orang munafik).” (Lihat HR. Ibnu Khuzaimah dalam Kitab As-Shohih (2/370) dan Al-Hakim dalam Kitab Al-Mustadrok (1/211), dengan Sanad-sanad yang shohih, lihat: Kitab Minhatul ‘Allam, (3/365).
Al-Imam Ibrohim An-Nakho’i rohimahulloh juga pernah mengatakan:
كَفَى عَلَماً عَلَى النِّفَاقِ أَنْ يَكُوْنَ الرَّجُلُ جَارَ المسْجِد ، لاَ يُرَى فِيْهِ
Artinya:
“Cukuplah seseorang itu disebut memiliki tanda/sifat kemunafikan, jika dia adalah tetangga masjid (rumahnya dekat dengan masjid), namun tidak pernah terlihat di masjid (untuk sholat berjamaah).” (Sumber: Kitab Fathul Bari Syarh Shohih Al-Bukhori (5/458), karya Al-Imam Ibnu Rojab Al-Hambali rohimahulloh, dan Ma’alimus Sunan (1/160), lihat pula: Kitab Minhatul ‘Allam, (3/365).
Dan masih banyak dalil-dalil lainnya, yang menjelaskan sifat-sifatnya orang-orang munafik, atau yang ada tanda-tanda kemunafikan dalam dirinya. Semoga Alloh subhanahu wa ta’ala senantiasa memberikan hidayah dan taufiq-Nya kepada kita semua, agar selalu mudah dalam menegakkan ibadah sholat kita sebaik mungkin
Semoga Alloh ta’ala juga menjauhkan dan menjaga kita semua, dari sifat-sifatnya orang munafik. Nas-alulloha At-Taufiq wal Istiqomah
Surabaya, Sabtu pagi yg sejuk, 10 Dzulqo’dzah 1445/18 Mei 2024 M
Akhukum fillah, Abu Abdirrohman Yoyok WN Surabaya









