Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
MAJELISILMU.COM – Apa itu gelar “Al-Muqri”? Sebagai seorang santri atau pembelajar Al-Qur’an, setiap kita sebenarnya adalah pejuang Al-Qur’an yang mempunyai misi mengajak orang terdekat, keluarga, teman, sahabat dan kerabat agar mengakrabkan diri dengan Al-Qur’an, mengajaknya membaca Al-Qur’an dan mentadabburi ayat-ayatnya serta menghafalnya sampai tingkat mahir (mutqin) sesuai kaidah Ilmu Tajwid dan Qiraat yang mengikatnya.
Jangan pernah patah semangat dalam mensyi’arkan Al-Qur’an, demikianlah sejarah yang ditinggalkan oleh Rasulullah SAW, para sahabat, tabi’in dan tabi’it tabi’in, serta para ulama (para imam qiraat) yang senantiasa bersemangat dalam mengakrabkan diri dengan Al-Qur’an, bersemangat dalam belajar dan mengajarkan Al-Qur’an.
Pada masa Rasulullah SAW masih hidup, pernah menyebut salah satu Sahabat yang begitu bersemangat dan berjasa besar dalam pengislaman penduduk Madinah dengan gelar “Al-Muqri”. Siapakah dia? Dialah Mush’ab bin Umair bin Hasyim bin Abdi Manaf al-Abdary al-Qursy Rahimahullah, salah satu Sahabat Nabi Muhammad ﷺ yang menjadi menjadi duta Islam pertama. Beliau lahir dan dibesarkan dalam sebuah keluarga yang kaya raya di kota Mekkah, selain memiliki paras yang tampan, hingga tidak heranlah jika kaum wanita sangat tergila-gila akan sosok ketampanan Mush’ab bin Umair.
Perjalanan besar seorang Mush’ab bin Umair bermula saat sering mendengar berita mengenai ajaran Islam yang dibawa Rasulullah dan memutuskan ke Darul Arqam, tempat dimana kaum Muslim berkumpul dan belajar Islam. Disana beliau mendengar ayat-ayat suci Al-Qur’an yang begitu mempesona sehingga membuat hatinya menjadi tenang dan damai, dengan lantunan merdu itulah akhirnya Mush’ab mengambil keputusan untuk memeluk Islam.
Setelah masuk Islam hidupnya berbalik menjadi susah dan menderita. Yang menarik dari perjalanan keislaman Mush’ab bin Umair adalah ketekunannya belajar Al-Qur’an. Selepas bai’at Aqabah pertama, Rasulullah SAW mengutusnya pergi ke Madinah untuk mengajarkan Islam dan membacakan Al-Qur’an. Karena jasanya ini, Rasulullah SAW kemudian memberinya gelar “Al-Muqri”.
“Al-Muqri” dapat diartikan sebagai seorang (Laki-laki) yang Ahli Ibadah dan Memahami Cara mengajarkan Islam, khususnya Al-Qur’an, menyangkut tata cara membaca, kaidah membacanya serta Adab-adab membacanya. Sosok Mush’ab bin Umair sebagai “Al-Muqri” pertama dan diberikan langsung oleh Rasulullah SAW memanglah dikenal pribadi yang baik, lembut dalam bertutur kata dan fasih dalam menjelaskan sesuatu yang merupakan bekal lengkap yang dibutuhkan untuk mempresentasikan Islam yang efektif dan menyampaikan pesannya kepada banyak orang.
Kelebihan lainnya dari sosok Mush’ab bin Umair adalah setia pada tugasnya sebagai pengajar Al-Qur’an, tak mudah tergoda akan hal duniawi selama menjalankan misi dakwahnya, mampu bertahan dalam ujian berat (termasuk meninggalkan kekayaannya), Fokus berharap Ridha Allah dan Rasul-Nya.
Nah, di masa kini tentu pemberian gelar “Al-Muqri” itu harus dijabarkan sesuai keahlian atau kompetensi yang dimiliki sebagai Pengajar Al-Qur’an, sebuah amalan yang dahulu dilakukan oleh Malaikat Jibril ‘alaihissalam saat menyampaikan wahyu kepada Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam, sebagaimana termaktub dalam Al-Quran:
فَإِذَا قَرَأْنَٰهُ فَٱتَّبِعْ قُرْءَانَهُۥ
Artinya:
“Apabila kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu.” (QS Al-Qiyamah: 18)
Rasulullah SAW sendiri memotivasi para sahabatnya untuk mengemban amanah mulia tersebut, sebagaimana dikutip dari Hadits Riwayat Bukhari berikut ini:
خيركم من تعلم القرآن وعلمه
Artinya:
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya” (HR Bukhori)
Apa saja Syaratnya menjadi Pengajar Al-Qur’an, “Al-Muqri”
Dalam mengajarkan Al-Quran sejatinya terdapat beberapa tingkatan, mulai dari mengajar huruf-huruf hijaiyyah (Iqro’), mengajarkan tajwid dan qira’at hingga mewariskan ijazah sanad Al-Quran kepada generasi selanjutnya.
Oleh karenanya, untuk bisa memberikan sanad pastinya tak semudah membalikkan tangan. Sebab butuh kriteria tertentu hingga seorang pengajar Al-Quran bisa mewariskan sanad. Seorang pemberi sanad harus memastikan bahwa ia telah mampu mencetak murid yang pantas untuk meneruskan perjuangannya, sebagai hafidz Al-Qur’an, sebagai Ahlul Qur’an.
Imam Ash-Shofaqusi rohimahulloh pernah menyebutkan gambaran kriteria yang harus dipenuhi. Setidaknya ada 7 ilmu yang harus dikuasai sebelum seorang pengajar Al-Quran dapat duduk sebagai seorang Muqri, yaitu: (1) Ilmu Bahasa Arab (Nahwu-Shorof), (2) Ilmu Tajwid, (3) Ilmu Rosm Al-Quran, (4) Ilmu Waqof & Ibtida’, (5) Ilmu Fawashil atau yang juga dikenal sebagai ilmu Addul Ay, (6) Ilmu Sanad Al-Quran, dan (7) Ilmu Ibtida’ & Khotm atau yang dikenal dengan Bab Isti’adzah dan Takbir.
Ketujuh ilmu diatas nantinya juga akan memudahkan seseorang dalam memahami Ilmu Qiraat. Sebab “al-Muqri” dituntut untuk bisa memahami berbagai Qiroat yang ada, bukan hanya berhenti dan puas dengan riwayat Hafs saja misalnya. Dikarenakan syarat “al-Muqri” yang berat tersebut sebagaimana tertulis diatas, Ibnul Jazari rohimahulloh mengingatkan para penghafal Al-Quran untuk selektif dalam memilih guru. Jangan sampai salah dan berguru kepada orang yang “nekat” mengajar dan memberikan sanad padahal ia belum mampu.
Imam Ibnul Jazari rohimahulloh menukil perkataan Imam Al-Hudzali rohimahulloh dalam kitabnya (Lihat: Munjidul Muqriin, Ibnul Jazari):
لا تغتروا بكل مقرئ إذ الناس على طبقات
Artinya:
“Janganlah kalian tertipu dengan setiap Muqri, sebab tiap orang memiliki tingkatan yang berbeda-beda”
Beberapa Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Tahfidzul Qur’an di Indonesia sendiri, menetapkan syarat atau jalan menuju “Muqri” adalah pada penguasaan teori dan praktek Ilmu Tajwid dan Ilmu Qiraat secara berurut sebagai berikut:
- Matan Hidayatus Sibyan;
- Matan Tuhfatul Athfal
- Matan Roiyyah al-Khoqoniyyah
- Matan Nuniyah as-Syakhowiyah
- Matan al-Jazariyah
- Al-Wadihah fi Tajwidil al-Fatihah
- Matan al-Mufid fi Tajwid
- Matan Salsabil asy-Syafi’i
- Matan Syatiby (Ushul Qiraat Sab’ah)
- Matan Ad-Durroh (Ushul Qiraat Tsalatsah)
- Ilmu Rasm dan Dhobt
- Taisir Rasm Utsmany
- Qiraat Nafy (Riwayat Qolun dan Warsy)
- Qiraat Ibnu Katsir (Riwayat Al-Bazzi dan Qunbul)
- Qiraat Abu ‘Amr (Riwayat Ad-Duriy dan As-Susi)
- Qiraat Ibnu Amir (Riwayat Hisyam dan Ibnu Dzakwan)
- Qiraat Ashim (Riwayat Hafsh dan Syu’bah)
- Qiraat Hamzah (Riwayat Kholaf dan Khollad)
- Qiraat al-Kisai (Riwayat Abu Harits dan ad-Duriy)
- Qiraat Ja’far (Riwayat Ibnu Wardan dan Ibnu Jammaz)
- Qiraat Ya’kub (Riwayat Ruwaisy dan Rouh)
- Qiraat Kholaf Al-‘Asyir (Riwayat Ishaq dan Idris)
Demikianlah beragam Ilmu dan Kitab yang harus diakrabi dan dipahami dengan baik, tahu cara menjelaskannya, menjiwainya dan menjadikannya bagian dari kehidupan kesehariannya sebelum seseorang itu benar-benar menjadi “al-Muqri” atau pengajar Al-Qur’an yang kompeten dan kredibel.
Semoga catatan singkat ini bermanfaat adanya. Barakallahu fiikum. (*)
(* Muhammad Farid Wajdi, Pembelajar al-Qur’an.










[…] ketidakakuratan Tajwid dan Makhraj huruf, terutama bagi pembelajar mandiri. Tidak selalu ada guru (muqri’) di sisi kita untuk mengoreksi detail pelafalan huruf Arab secara instan dan personal. Keterbatasan […]