Oleh: Muhammad Laili Al-Fadhli
MAJELISILMU.COM – Cukup banyak kaum muslimin yang mengira bahwa Al-Qurân hanya memiliki satu versi bacaan. Sehingga apabila mereka menemukan mushaf atau mendengar variasi bacaan yang berbeda, seringkali disikapi dengan berlebihan dan tergesa untuk menyalahkan bahkan memvonis dengan vonis yang buruk.
Kemudian dalam beberapa tahun terakhir, gaung ilmu qirâah, yakni ilmu yang mempelajari variasi bacaan Al-Qurân semakin menggema. Sudah semakin banyak orang yang memahami bahwa bacaan Al-Qurân memiliki beberapa variasi yang berbeda.
Ada yang mengetahui bahwa Al-Qurân memiliki 7 variasi bacaan. Ada juga yang telah mengetahui bahwa selain 7 variasi bacaan (lebih dikenal dengan istilah qirâah sab’ah), di sana terdapat 3 variasi bacaan yang lain untuk melengkapi 10 qirâah (dikenal dengan istilah qirâah ‘asyrah).
Kemudian tidak sedikit pula yang telah memahami bahwa setiap satu qirâah memiliki beberapa variasi bacaan dari jalur-jalur periwayatan yang ada. Para ulama telah memilih dua riwâyah untuk setiap satu qirâah. Sehingga terkumpullah 20 riwâyah untuk 10 qirâah.
Tidak jarang juga yang sudah mengetahui bahwa selain 10 qirâah yang dikenal dengan istilah qirâah ‘asyrah beserta 20 riwâyahnya, di sana terdapat qirâah lain yang belum disepakati validitasnya. Setidaknya terdapat 4 qirâah yang kemudian sering disebut-sebut dan menjadi pelengkap qirâah 14. Walaupun dalam beberapa kitab disebutkan terdapat 40 variasi qirâah yang lain di luar 10 qirâah.
Adapun variasi bacaan yang kebanyakan diamalkan kaum muslimin sendiri, adalah bacaan yang bersandar kepada riwâyah Al-Imâm Hafsh. Beliau merupakan satu dari dua perawi terpilih dari qirâah Al-Imâm ‘Ashim, salah seorang tâbiut tâbiin, sekaligus ayah tiri dari Al-Imâm Hafsh.
Al-Imâm ‘Ashim mempelajari dan meriwayatkan Al-Qurân dari para ulama generasi tâbiin, di antara yang paling terkenal adalah Abû Abdirrahmân As-Sulamiy dan Zirr bin Hubaysy. Keduanya mengambil riwâyah Al-Qurân dari beberapa orang Sahabat Nabi, di antaranya adalah ‘Aliy bin Abî Thâlib, ‘Utsmân bin Affân, Zayd bin Tsâbit, Ibn Mas’ûd, dan Ubay bin Ka’b, ridhwânullâhi ‘alayhim ajma’în.
Riwâyah Hafsh sendiri memiliki beberapa variasi bacaan yang berbeda yang riwayatnya shahîh sampai kepada kita. Adapun yang paling terkenal dan banyak diamalkan adalah apa yang datang dari jalur Asy-Syâthibiyyah, yakni jalur periwayatan yang dipilih oleh Al-Imâm Asy-Syâthibiy dan kaidah-kaidahnya telah beliau catat dalam Kitab Hirzul Amaniy yang lebih dikenal dengan Matn Asy-Syâthibiy.
Al-Imâm Asy-Syâthibiy meriwayatkannya dari Al-Imâm ‘Aliy bin Hudzayl, dari Al-Imâm Abû Dâwûd Sulaymân bin Najâh, dari Al-Imâm Abû Amr Ad-Dâniy, dari Al-Imâm Thâhir bin Ghalbûn, dari Al-Imâm’ Aliy Al-Hâsyimiy, dari Al-Imâm ‘Ubayd bin Ash-Shabbâh, dari Al-Imâm Hafsh.
Adapun selain jalur Asy-Syâthibiyyah, maka di sana terdapat setidaknya 56 jalur yang lain yang datang kepada kita dengan variasi bacaannya masing-masing. Sehingga totalyna terdapat 57 jalur periwayatan untuk Al-Imâm Hafsh.
Al-Imâm Ibnul Jazariy telah mengumpulkan dan menelitinya dalam Kitab An-Nasyr fil Qirâatil ‘Asyr, dimana beliau telah menghimpun 52 jalur dari riwâyah Al-Imâm Hafsh, termasuk di dalamnya adalah jalur Asy-Syâthibiyyah. Jalur-jalur tersebut sering dikenal dengan istilah jalur Ath-Thayyibah, disebabkan Al-Imâm Ibnul Jazariy menyusun sebuah nazhm yang meringkas kitab An-Nasyr dengan judul Thayyibatun Nasyr.
Setelah itu, Al-‘Allâmah Mushthafâ Al-Izmîriy menghimpun 5 jalur lain untuk melengkapi apa yang telah diteliti oleh Al-Imâm Ibnul Jazariy. Kelima variasi ini seringkali masih disandarkan pada jalur Ath-Thayyibah disebabkan Al-Izmîriy hanya menyempurnakan hasil penelitian Ibnul Jazariy, bukan benar-benar menemukan sesuatu yang baru di luar apa yang telah terhimpun dalam An-Nasyr.
Keseluruhan 57 jalur ini memiliki variasi bacaan masing-masing, yang apabila kita peras, maka dapat menghasilkan 46 variasi yang berbeda. Sebagian ulama yang lain berhasil memerasnya kembali sehingga bisa memperkecil variasinya menjadi 25 variasi saja. Bahkan sebagian ulama yang lain kembali memperkecil variasi tersebut sehingga mendapatkan 15 variasi bacaan yang shahîh untuk keseluruhan jalur periwayatan Al-Imâm Hafsh. Tentu saja ada variasi-variasi yang belum menemukan kesepakatan sehingga memunculkan perbedaan tersebut.
– 2 Harakat
– 3 Harakat
– 4 Harakat, dan
– 5 HarakatKemudian variasi kadar panjang Madd Wajib Muttashil, terdapat 3 variasi:
– 4 Harakat
– 5 Harakat, dan
– 6 HarakatDalam jalur Asy-Syâthibiyyah, kita hanya boleh memilih dua variasi saja: apabila kita membaca Madd Jaiz munfashil 4 harakat, maka Madd muttashil pun 4 harakat. Apabila salah satunya dipilih 5 harakat, maka yang lainnya juga mesti 5 harakat. Jadi, pilihannya 4 Munfashil-4 Muttashil atau 5-5.
Sedangkan variasi yang lain yang dapat kita amalkan adalah:
– 2 Munfashil – 4 Muttashil
– 2 – 6
– 3 – 6
– 4 – 4
– 4 – 6
– 5 – 5
– 5 – 6
Namun demikian, sebelum kita mengamalkan variasi tersebut, kita juga mesti memahami poin-poin lain yang sesuai dengan masing-masing variasi yang bersangkutan, di antaranya:
👉🏻 Apakah ada takbir atau tidak, yakni mengucapkan “Allâhu Akbar” setiap mengakhiri sebuah surat. Variasi takbir juga terbagi-bagi:
1. Takbir ‘Âm: mengucapkan takbir setiap akhir surat
2. Takbir Khâsh A: mengucapkan takbir dari setiap awal Adh-Dhuha s.d. Akhir An-Nâs
3. Takbir Khâsh B: mengucapkan takbir dari awal surat Asy-Syarh s.d. Awal surat An-Nâs.
👉🏻 Apakah terdapat saktah pada sukun yang berada sebelum Hamzah. Dalam hal ini terdapat dua bentuk:
1. Saktah ‘Âm: saktah pada sukun sebelum Hamzah, baik itu dalam Lam Ta’rîf, kata “Syay-in”, satu kata yang bersambung, atau dua kata yang terpisah.
2. Saktah Khâsh: saktah pada tempat2 di atas kecuali pada satu kata bersambung.
👉🏻 Apakah membaca dengan huruf Shad atau Sin pada empat kata بصطة، يبصط، المصيطرون، بمصيطر.
👉🏻 Apakah mengidghâmkan atau mengizhharkan lafazh اركب معنا.
👉🏻 Apakah mengidghâmkan dengan ghunnah (bighunnah) atau tanpa ghunnah (bila ghunnah), apabila Nun sakinah/ Tanwin bertemu dengan Lam dan Ra.
👉🏻 Apakah boleh membaca isymam atau raum pada lafazh لا تأمنا atau hanya isymam saja.
👉🏻 Apakah boleh membaca dengan tashil pada lafazh ءالذكرين، ءالئن، ءالله atau hanya Madd lazim saja.
👉🏻 Apakah mengidghâmkan Yâsîn dan Nûn apabila Washl dengan lafazh berikutnya ataukah mengizhhârkannya.
👉🏻 Apakah terdapat saktah wajib pada 4 tempat atau tidak.
👉🏻 Apakah membaca Ra Tafkhim atau Tarqiq pada lafazh فرق saat Washl.
👉🏻 Apakah membaca dengan menetapkan Alif atau membuangnya saat Waqf pada lafazh سلاسلا.
👉🏻 Apakah membaca dengan menetapkan Ya atau membuangnya saat Waqf pada lafazh ءاتاني.
👉🏻 Apakah boleh membaca huruf Dhad dengan dhammah pada lafazh ضعفا ضعف atau hanya mengkasrahkannya.
👉🏻 Berapa harakat saat membaca Ain dalam huruf muqaththa’ah, apakah 2, 4, 6 atau boleh beberapa cara.
Poin-poin di atas mesti diperhatikan dengan sesama sebelum kita memilih variasi bacaan lain dalam riwayat Al-Imâm Hafsh. Sedangkan mushaf dan kitab-kitab tajwid yang banyak beredar kebanyakan telah disesuaikan dengan standar tajwid dan variasi bacaan dalam jalur Asy-Syâthibiyyah.
Untuk mendapatkan rinciannya maka silakan pelajari beberapa kitab berikut:
1. An-Nasyr fil Qirâatil Asyr,
2. Sharîhun Nash Fi’l Kalimâtil Mukhtalafi Fiha An Hafsh.
3. Umdatul Irfan Fi Tahriri Awjuhil Quran
4. Ar-Rawdhul Bâsim Fi Talkhisi Ushuli Riwayat Hafsh An Ashim
5. Al-Faraidul Murat tabah Alal Fawaidil Muhadzdzabah Fi Bayani Khulfi Hafshin min Thariqith Thayyibah
6. Ahsanul Bayan Syarh Thuruqith Thayyibah Biriwayati Hafshinibni Sulaymân
Kemudian, jangan lupa bertalaqqiy kepada guru yang mutqin untuk memverifikasi kebenaran variasi bacaan dan ketepatan pelafalannya, karena pemahaman terhadap teori tidak akan pernah bisa sempurna kecuali diiringi dengan talaqqi dan musyafahah.
Wallâhu a’lam bish-shawab.









