Oleh : Ahmad Hasanuddin Umar *)

MAJELISILMU.COM – Untuk mendapatkan keberkahan ilmu, penting bagi setiap murid (thalib) memperhatikan adab-adab dalam majlis ilmu, agar jangan sampai dia tidak mendapatkan faidah dan keberkahan ilmu.

Dalam kitab Ādab ath-Thālib ma‘a Syaikhihi karya Syaikh ‘Āid bin Muqbil ar-Rābi‘iy rahimahullāh, dijelaskan secara terperinci apa saja adab-adab seorang murid kepada gurunya, diantaranya adab atau etika bertanya kepada guru di majlis ilmu.

Menuntut ilmu itu ada adab-adabnya, perhatian seorang murid terhadap adab dalam menuntut ilmu akan memperbaiki akhlaknya saat dia belajar kepada seorang guru, dan juga kepada teman-temannya yang sedang sama-sama menuntut ilmu, akan memudahkan baginya jalan dalam mencari ilmu, akan membuka matanya mana yang paling penting diantara yang penting, dan akan menunjukkan kepadanya jalan orang-orang yang kokoh ilmunya, yang telah mendahului dia dalam menuntut ilmu dari kalangan kibar al-ulamā.

Kebutuhan seorang murid terhadap adab, sebelum dia menuntut ilmu sangatlah penting, oleh karenanya banyak sekali nasehat para ulama tentang pentingnya beradab sebelum berilmu.

Sebagaimana disebutkan oleh Hamad bin Ibrahīm al-Utsmān dalam kitab an-Nubadz fī Ādābi Thalabi al-Ilmi, terkait pentingnya adab dalam menuntut ilmu yang telah disampaikan oleh para ulama, diantaranya ;

Al-Imam Malik bin Anas penulis kitab al-Muwaththa pernah berpesan kepada seorang pemuda Quraisy:

يا ابن أخي تعلّم الأدب قبل أن تتعلٌم العلم.

Artinya:

“Duhai putra saudaraku, pelajarilah adab sebelum engkau belajar ilmu…!”

Yusuf bin al-Husain salah satu ulama abad ke-3 hijriyyah yang wafat sekitar tahun 304 hijriyyah salah satu murid dari Al-Imam Ahmad bin Hambal pernah berkata:

بالأدب تفهم العلم

Artinya:

“Dengan adab engkau akan paham ilmu.”

Abu Abdillāh Muhammad bin al-Fadhl al-Balkhīy ulama abad ke-4 hijriyyah yang tinggal di Samarkhand, dan wafat pada tahun 319 Hijriyyah, pernah berkata tentang pentingnya adab:

أدب العلم أكثر من العلم

Artinya:

“Adab (ber) ilmu lebih banyak daripada ilmu (itu sendiri).”

Al-Laits bin Sa’ad ulama hadis dan ahli fiqih pada zamannya, yang lahir di Mesir pada tahun 94 hijriyyah dimasa kekuasaan Bani Umayyah dan wafat tahun 175 hijriyyah dimasa kekuasaan Bani Abbasiyyah, salah satu guru dari al-Imam asy-Syāfi‘iy pernah berkata:

أنتم إلى يسير من الأدب أحوج منكم إلى كثير من العلم

Artinya:

“Kalian lebih membutuhkan adab meskipun sedikit, dari pada ilmu yang banyak.”

Artinya buat apa punya ilmu banyak, tapi tidak punya adab? Lebih baik adab dulu dipelajari sebelum belajar ilmu yang banyak, kira-kira begitu yang bisa kita simpulkan dari perkataan Al-Laits bin Sa‘ad diatas.

Bertanyalah dengan Adab

Berkata Ibnu al-Jauzi rahimahullāh ulama abad ke-6 hijriyyah, yang lahir pada tahun 510 hijriyyah di Baghdad dan wafat pada tahun 597 hijriyyah yang jika ditarik ke atas, nasabnya bersambung sampai ke Muhammad bin Abi Bakr as-Shiddiq radhiyallāhu ‘anhu, Ahli Fiqh Mazhab al-Hambaliy, penulis beberapa kitab yang masyhur, diantaranya : Shifatu as-Shafwah, Talbīs al-Iblīs dan Shaidu al-Khātir, beliau pernah berkata terkait adab bertanya di majlis ilmu:

 

ومتى أشكل شيء من الحديث على الطالب صبر، حتى ينتهي الحديث، ثم يشتفهم الشيخ بأدب ولطف، ولا يقطع عليه في وسط الحديث

 

Artinya:

“Ketika ada yang sulit dari suatu hadis, maka seorang thalib (penuntut ilmu) harus sabar, sampai pembahasan hadis tersebut selesai, (baru) kemudian dia bertanya kepada guru dengan adab dan kelembutan, dan jangan memotong perkataan guru ditengah pembahasan.”

Perkataan Ibnu al-Jauziy ini disebutkan dalam kitab al-Adab asy-Syar‘iyyah karya Ibnu Muflih, dan dikutip oleh Syaikh ‘Āid bin Muqbil ar-Rābi‘iy dalam kitab Ādābu at-Thālib ma‘a Syaikhihi halaman 44.

Memotong Pembahasan yang sedang Disampaikan

Adab bertanya di majlis ilmu ini penting sekali untuk diperhatikan, karena pertanyaan yang dilontarkan kepada seorang guru dalam keadaan pikirannya sedang sibuk, seringkali menggangu konsentrasinya, akhirnya jawaban yang disampaikan sang guru jadi kurang sempurna, atau bisa jadi justru pertanyaan yang memotong pembahasan yang sedang disampaikan itu justru menyakiti hati sang guru, dimana ia tidak senang pembahasannya dipotong begitu saja dengan pertanyaan atau celetukan yang dilontarkan oleh si murid tanpa adab.

Pertanyaan yang dilontarkan oleh seorang murid, saat sang guru sedang menyampaikan pelajaran, ini menyebabkan hilangnya faidah bagi murid-murid lain yang hadir yang sedang mendengarkan pembahasan, karena bisa jadi sebenarnya sang guru akan menyampaikan faidah atau masalah penting, tiba-tiba dipotong oleh pertanyaan atau celetukan salah seorang murid, yang akhirnya menyebabkan sang guru lupa atau tidak jadi menyampaikan faidah dan masalah penting tersebut, atau ada kemungkinan sang guru sebenarnya akan menyampaikan sesuatu yang ditanyakan oleh si murid yang tergesa-gesa dan tidak sabar itu.

Dengan demikian, jika ingin ilmu yang didapatkan berkah, perhatikanlah adab-adab di majlis ilmu, termasuk diantaranya adab bertanya kepada guru, semoga bermanfaat. [] @AHU

*** ***

Sampangan Lor,
Sabtu, 06 Sya’ban 1442 H / 20 Maret 2021 M.

(*  Ahmad Hasanuddin Umar, Pegiat Kajian al-Qur’an dan Hadis Nabi, tinggal di Jogja.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini