Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

Related Post: Adab-adab dalam Berdo’a

MAJELISILMU.COM – Ada kalanya manusia begitu tekun menengadahkan tangan ke langit, tetapi lupa melihat apa yang telah masuk ke dalam dirinya. Ia meminta rezeki, keselamatan, keberkahan, kesembuhan, dan terkabulnya segala harapan. Ia mengulang-ulang doa dengan penuh harap: “Yā Rabb, Yā Rabb…” Namun, pada saat yang sama, ia mungkin tidak pernah bertanya, “Dari manakah makanan yang menguatkan tubuhku? Dari manakah pakaian yang menutup tubuhku? Dari jalan apakah harta yang memenuhi kebutuhan keluargaku diperoleh?

Di sinilah sebuah hadits Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh Imam Muslim menghadirkan teguran spiritual yang sangat mendalam. Rasulullah mengingatkan bahwa Allah itu—Maha Baik dan Maha Suci—dan Dia tidak menerima kecuali sesuatu yang baik dan suci pula. Kebaikan dalam hadits ini bukan sekadar persoalan bentuk lahiriah, melainkan menyangkut asal-usul, cara memperoleh, serta nilai moral dan spiritual yang melekat pada sesuatu yang dipersembahkan kepada Allah.

:عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

إِنَّ اللهَ تَعَالَى طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّباً، وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِيْنَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِيْنَ

:فَقَالَ تَعَالَى : ,يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحاً – وَقاَلَ تَعَالَى

, يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ – ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيْلُ

السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ ياَ رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ

حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِّيَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لَهُ

[رواه مسلم]

 

Artinya:

Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu dia berkata : Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : Sesungguhnya Allah ta’ala itu baik, tidak menerima kecuali yang baik. Dan sesungguhnya Allah memerintahkan orang beriman sebagaimana dia memerintahkan para rasul-Nya dengan firmannya : Wahai Para Rasul makanlah yang baik-baik dan beramal shalihlah. Dan Dia berfirman : Wahai orang-orang yang beriman makanlah yang baik-baik dari apa yang Kami rizkikan kepada kalian. Kemudian beliau menyebutkan ada seseorang melakukan perjalan jauh dalam keadaan kumal dan berdebu. Dia memanjatkan kedua tangannya ke langit seraya berkata : Yaa Robbku, Ya Robbku, padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan kebutuhannya dipenuhi dari sesuatu yang haram, maka (jika begitu keadaannya) bagaimana doanya akan dikabulkan. (Riwayat Muslim).

Dalam hadits diatas, Nabi SAW menggambarkan seorang musafir yang telah memenuhi hampir seluruh gambaran lahiriah seorang hamba yang sedang berada dalam keadaan layak dikabulkan doanya. Ia melakukan perjalanan jauh, tubuhnya kusut, pakaiannya berdebu, kedua tangannya terangkat ke langit, dan lisannya memanggil penuh pengharapan, “Yā Rabb, Yā Rabb.” Secara lahiriah, semua itu merupakan gambaran kerendahan hati dan kesungguhan dalam berdoa. Namun terdapat satu persoalan mendasar yang justru menjadi penghalang dikabulkannya do’anya, yaitu makanannya berasal dari yang haram, minumannya haram, pakaiannya haram, bahkan kehidupannya tumbuh dari sumber yang haram.

Pertanyaan Nabi kemudian mengguncang kesadaran kita: Bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan? Hadits ini sesungguhnya mengajarkan bahwa hubungan manusia dengan Allah tidak hanya dibangun melalui ritual, tetapi juga melalui integritas kehidupan. Kesalehan tidak cukup hanya tampak di atas sajadah, dalam panjangnya doa, atau dalam indahnya ucapan keagamaan.

Keshalehan juga harus hadir di pasar, di kantor, dalam transaksi ekonomi, dalam pekerjaan, dalam cara mencari nafkah, bahkan dalam setiap suap makanan yang masuk ke dalam tubuh. Apa yang kita makan ternyata bukan sekadar persoalan biologis. Ia memiliki hubungan dengan kehidupan spiritual dan keberagamaan kita.

Harta bukan hanya persoalan jumlah, tetapi juga asal-usulnya. Sebab manusia tidak hanya hidup dari apa yang ia konsumsi, melainkan dalam banyak hal, jiwanya turut dibentuk oleh cara ia memperoleh apa yang dikonsumsinya.

Di tengah kehidupan modern yang sering menilai keberhasilan berdasarkan kemewahan dan kelimpahan materi, hadits ini mengajak kita untuk kembali kepada sebuah pertanyaan sederhana tetapi sangat mendasar: Apakah yang kita miliki benar-benar membawa keberkahan? Tidak semua yang banyak adalah baik. Tidak semua yang menguntungkan adalah halal. Dan tidak semua yang tampak berhasil di mata manusia akan bernilai di hadapan Allah.

Mungkin seseorang memiliki rumah yang megah, kendaraan yang mahal, pakaian yang indah, dan tabungan yang berlimpah. Tetapi jika semuanya dibangun di atas ketidakjujuran, penipuan, korupsi, manipulasi, perampasan hak orang lain, atau jalan-jalan yang diharamkan, maka kemewahan itu menyisakan persoalan yang jauh lebih besar daripada sekadar keberhasilan material. Sebab ada sesuatu yang tidak dapat dibeli oleh kekayaan: keberkahan.

Karena itu, hadits ini bukan semata-mata berbicara tentang makanan halal dan haram dalam pengertian sempit. Ia adalah sebuah kritik terhadap keseluruhan cara manusia menjalani kehidupan. Ia mengingatkan bahwa doa tidak boleh dipisahkan dari perilaku, ibadah tidak boleh dipisahkan dari etika, dan hubungan dengan Tuhan tidak boleh dipisahkan dari cara kita memperlakukan kehidupan dan sesama manusia.

Pada akhirnya, sebelum bertanya mengapa do’a-do’a kita belum dikabulkan, mungkin kita perlu terlebih dahulu melakukan perjalanan ke dalam diri sendiri. Bermuhasabah. Memeriksa kembali sumber penghasilan, cara kita bekerja, apa yang kita makan, apa yang kita pakai, dan bagaimana kita membelanjakan harta. Jangan-jangan yang menjadi penghalang bukan karena langit terlalu jauh untuk dijangkau oleh do’a, melainkan karena kehidupan kita sendiri belum sungguh-sungguh dibangun di atas sesuatu yang thayyib.

Hadtis Nabi ini mengajarkan sebuah prinsip besar, bahwa jalan menuju Allah tidak hanya ditempuh dengan tangan yang terangkat dalam doa, tetapi juga dengan tangan yang bersih ketika mencari nafkah. Sebab do’a yang tulus memerlukan kehidupan yang jujur, dan harapan kepada Allah harus berjalan seiring dengan kesungguhan menjaga diri dari apa yang telah Dia haramkan.

Dari sinilah kita belajar bahwa keberkahan bukan terletak pada seberapa banyak yang kita miliki, melainkan pada seberapa baik dan halal apa yang kita peroleh. Dan barangkali, salah satu bentuk doa yang paling jujur bukan hanya mengucapkan “Yā Rabb, Yā Rabb,” melainkan memastikan bahwa seluruh perjalanan hidup kita juga layak untuk dipersembahkan kepada-Nya.

Demikian catatan singkat ini, semoga bermanfaat adanya. Barakallahu fiikum. (*)

 

(* Muhammad Farid Wajdi, Guru Al-Qur’an-Hadits/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, Sulsel.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini