Quranic Reception in the Malay Archipelago: Manuscript History and Calligraphic Traditions from the 17th to 19th Centuries
Muhammad Farid Wajdi 1, Muhammad Daming 2 Abdul Ghany 3
(Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar)
Alamat e-mail: 1 mfarid.wajdi@immimpangkep.ponpes.id, Alamat e-mail: 2 muhammaddamingk@gmail.com, Alamat e-mail: 3 abdul.ghany@uin-alauddin.ac.id
ABSTRACT
The reception of the Qur’an in the Malay Archipelago (Nusantara) is not merely a theological phenomenon but a cultural manifestation reflected in the rich tradition of manuscript copying. This article explores the history of Qur’anic manuscript production between the 17th and 19th centuries by integrating philological analysis with local history perspectives. The study focuses on codicological aspects, including the use of materials such as European paper and local daluwang, as well as the scriptorium traditions within Islamic sultanates such as Aceh, Banten, and the Javanese courts. Furthermore, this research analyzes illumination patterns as evidence of cultural acculturation. The findings reveal that Nusantara manuscripts possess distinct aesthetic characteristics—integrating local floral motifs, tumpal patterns, and traditional color palettes—into the framework of divine revelation. This integration demonstrates how the local population “grounded” the universal text of the Qur’an within the aesthetic and social context of Malay-Indonesian civilization. Through this interdisciplinary approach, the article highlights the manuscript as a sophisticated artifact that records the intersection of Islamic spirituality, political legitimacy, and indigenous artistry.
Keywords: Quranic Reception, Nusantara Manuscripts, Philology.
ABSTRAK
Resepsi Al-Qur’an di Nusantara bukan sekadar fenomena teologis, melainkan juga fenomena budaya yang termanifestasi dalam tradisi penyalinan manuskrip. Artikel ini mengeksplorasi sejarah penyalinan Al-Qur’an di Nusantara pada abad ke-17 hingga ke-19 dengan memadukan pendekatan filologi dan sejarah lokal. Fokus bahasan meliputi teknik kodikologi, tradisi penyalinan di pusat-pusat kerajaan Islam seperti Aceh, Banten, dan kraton-kraton di Jawa, serta analisis iluminasi sebagai bentuk akulturasi budaya. Hasil kajian menunjukkan bahwa mushaf Nusantara memiliki karakteristik unik yang membedakannya dengan mushaf dari pusat Islam di Timur Tengah, di mana motif lokal diintegrasikan ke dalam bingkai iluminasi sebagai simbol identitas peradaban Melayu-Indonesia.
Kata Kunci: Resepsi Al-Qur’an, Manuskrip Nusantara, Filologi. .
A. Pendahuluan
Kehadiran Al-Qur’an di Nusantara tidak hanya menandai transformasi spiritual masyarakat, tetapi juga melahirkan tradisi intelektual dan artistik yang luar biasa. Sejak masuknya Islam, aktivitas penyalinan teks suci menjadi kebutuhan primer bagi pendidikan di pesantren, dayah, dan lingkungan istana. Namun, sejarah penyalinan Al-Qur’an di wilayah ini sering kali luput dari narasi besar sejarah Islam dunia, yang cenderung memusatkan perhatian pada tradisi penyalinan di Persia atau Kekaisaran Utsmaniyah.
Abad ke-17 hingga ke-19 merupakan masa keemasan tradisi penyalinan Al-Qur’an di Nusantara. Pada periode ini, kerajaan-kerajaan Islam telah mapan secara politik dan ekonomi, memungkinkan munculnya patronase seni dari kalangan bangsawan. Secara filologis, manuskrip Al-Qur’an Nusantara menyimpan data yang kaya mengenai bagaimana teks suci “diterima” (resepsi) dan diinterpretasikan melalui estetika lokal. Artikel ini bertujuan membedah bagaimana integrasi antara nilai-nilai Islam dengan kearifan lokal menciptakan karakter khas pada mushaf-mushaf kuno di Nusantara.
B. Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode interdisipliner yang mengintegrasikan ilmu Filologi dan Sejarah Lokal. Pendekatan ini dipilih untuk membedah manuskrip Al-Qur’an tidak hanya sebagai teks statis, tetapi juga sebagai artefak budaya yang memiliki konteks ruang dan waktu. Pendekatan Filologi digunakan untuk membedah aspek fisik dan tekstual manuskrip (kodikologi), seperti jenis kertas, tinta, dan pola penyalinan. Sementara itu, Sejarah Lokal memberikan konteks mengenai di mana dan mengapa sebuah mushaf dibuat.
Resepsi estetik dalam hal ini dipahami sebagai respon masyarakat Nusantara terhadap kehadiran teks Al-Qur’an yang diwujudkan dalam bentuk hiasan (iluminasi). Iluminasi bukan sekadar pemanis, melainkan cara seniman lokal memberikan “penghormatan” kepada wahyu Tuhan dengan menggunakan bahasa visual yang mereka pahami, seperti motif flora, geometris, atau ragam hias tradisional daerah masing-masing.
1. Metode Filologi (Kodikologi dan Tekstologi)
Langkah pertama melibatkan kerja filologis yang berfokus pada aspek fisik manuskrip atau kodikologi. Peneliti melakukan observasi terhadap:
- Bahan (Alas Tulis): Mengidentifikasi penggunaan kertas Eropa (melalui analisis watermark dan countermark) serta kertas lokal seperti daluwang.
- Iluminasi dan Rubrikasi: Menganalisis ragam hias, pola bingkai, dan penggunaan warna pada kepala surat (surah) untuk melihat pengaruh estetika wilayah tertentu.
- Paleografi: Mengamati gaya penulisan khat (naskhi, muhaqqaq, atau gaya lokal) yang digunakan oleh para penyalin (katib) di Nusantara.
2. Pendekatan Sejarah Lokal (Konteks Sosio-Politik)
Setelah data fisik terkumpul, peneliti menggunakan metode sejarah untuk merekonstruksi latar belakang kemunculan manuskrip tersebut. Hal ini mencakup:
- Analisis Patronase: Menelusuri hubungan antara penyalinan manuskrip dengan otoritas kekuasaan di kerajaan-kerajaan Islam (seperti Aceh, Banten, dan Yogyakarta).
- Kritik Sumber: Melakukan verifikasi terhadap kolofon (catatan di akhir naskah) untuk menentukan penanggalan, lokasi penyalinan, dan identitas penyalin jika tersedia.
3. Teknik Pengumpulan Data
Data dikumpulkan melalui studi pustaka dan observasi terhadap katalog-katalog manuskrip penting, di antaranya:
- Katalog Induk Manuskrip Nusantara.
- Koleksi digital dari British Library (khususnya koleksi William Marsden dan John Crawfurd).
- Dokumentasi dari Museum Istiqlal dan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.
4. Analisis Data (Metode Komparatif)
Data yang diperoleh kemudian dianalisis secara komparatif. Peneliti membandingkan ciri khas iluminasi antara satu wilayah dengan wilayah lainnya (misalnya, perbedaan motif punce pada mushaf Aceh dengan motif gunungan pada mushaf Jawa). Analisis ini bertujuan untuk menemukan pola akulturasi budaya dan sejauh mana unsur lokal diintegrasikan ke dalam tradisi penyalinan Al-Qur’an.
C. Hasil dan Pembahasan
Tradisi Penyalinan dan penyebaran Al-Qur’an di Nusantara didapatkan hasil sangat bergantung pada rute perdagangan dan pusat-pusat kekuasaan politik Kerajaan Islam. Berdasarkan temuan dari berbagai koleksi yang tersimpan di Perpustakaan Nasional RI dan British Library, manuskrip Al-Qur’an di Nusantara abad ke-17 hingga 19 tidaklah seragam. Terdapat stratifikasi berdasarkan fungsi dan pemiliknya. Secara garis besar, peneliti menemukan dua tipologi utama, yaitu:
Pertama, Mushaf Istana (Royal Qu’ran), memiliki iluminasi penuh (full illumination) pada setidaknya tiga tempat: awal (Al-Fatihah dan Al-Baqarah), tengah (Surah Al-Kahfi atau awal Juz 15), dan akhir (Surah Al-Nas dan Al-Falaq). Menggunakan kertas Eropa berkualitas tinggi dengan watermark Pro Patria atau Concordat.
Kedua, Mushaf Pesantren/Rakyat, Lebih sederhana, seringkali tanpa iluminasi atau hanya berupa garis hitam sederhana. Media yang digunakan dominan adalah kertas kulit kayu (daluwang). Fokus utamanya adalah fungsionalitas untuk hafalan dan pendarasan, bukan estetika.
Dari kedua jenis Mushaf diatas, dapat dijelaskan lebih detail sebagai berikut:
1. Skriptorium Aceh: Standardisasi Estetika Melayu
Aceh, yang dikenal sebagai Serambi Mekkah, pada abad ke-17 merupakan pusat intelektual Islam terkemuka di Asia Tenggara sekaligus menjadi pusat produksi mushaf yang paling produktif. Manuskrip Aceh abad ke-17 dan ke-18 dikenal memiliki standar iluminasi yang sangat tinggi. Hasil penelitian menunjukkan adanya konsistensi pola pada mushaf-mushaf Aceh yang dikenal sebagai “Gaya Aceh”.
Ciri khas mushaf Aceh adalah penggunaan warna merah, kuning emas, dan hitam yang dominan, dengan motif yang dipengaruhi oleh gaya Turki Utsmaniyah namun disesuaikan dengan pola suluran daun lokal. Konsistensi gaya ini menunjukkan adanya skriptorium yang terorganisir di bawah pengawasan kesultanan. Secara sejarah, hal ini mencerminkan stabilitas politik Aceh yang mampu membiayai para katib (penyalin) profesional. Penggunaan warna kuning emas bukan sekadar estetika, melainkan simbol kemuliaan Sultan sebagai Zhilullah fil ‘Alam (Bayang-bayang Allah di muka bumi).
Penggunaan kertas Eropa (dengan watermark tertentu) menunjukkan hubungan dagang yang intens antara Aceh dengan pasar internasional pada masa itu. Karakteristik Visual Iluminasi Aceh biasanya berbentuk persegi panjang dengan kubah atau puncak (punce) yang mencuat ke luar di tiga sisi. Motif yang digunakan sangat konsisten: geometris melengkung dan suluran daun yang sangat rapat.
2. Mushaf Jawa dan Banten: Harmoni Islam-Jawa
Di Banten dan pesisir utara Jawa (Demak hingga Cirebon), tradisi penyalinan dipengaruhi oleh estetika keraton. Mushaf dari Banten sering kali menggunakan kertas daluwang (kertas kulit kayu lokal) untuk konsumsi santri, namun menggunakan kertas Eropa berkualitas tinggi untuk pesanan istana. Motif iluminasinya sering kali menyerap ragam hias tumpal atau pola batik yang telah ada sebelum Islam masuk, membuktikan adanya sinkretisme visual yang harmonis.
Berbeda dengan Aceh, manuskrip dari wilayah Jawa (Banten, Cirebon, dan Yogyakarta) menunjukkan tingkat akulturasi yang lebih luwes dengan budaya pra-Islam. Pada beberapa mushaf dari kraton Yogyakarta dan Surakarta, bingkai iluminasi seringkali menyerupai bentuk gunungan dalam pewayangan. Ini adalah bentuk resepsi lokal di mana konsep “puncak spiritual” dalam budaya Jawa disinkronkan dengan kemuliaan teks Al-Qur’an.
Penggunaan warna hijau dan biru lebih sering ditemukan di Jawa dibandingkan di Sumatera. Selain itu, penggunaan kertas daluwang di Jawa bukan hanya karena alasan ekonomi, tetapi juga karena tradisi lokal penyalinan naskah keagamaan sejak masa Hindu-Buddha yang terus dilestarikan.
Penelitian terhadap watermark (cap air) pada manuskrip abad ke-18 dan 19 menunjukkan betapa terhubungnya Nusantara dengan jalur perdagangan global. Banyak manuskrip Al-Qur’an di Banten menggunakan kertas yang diproduksi di Belanda dan Italia.
Analisis ini membuktikan bahwa Penyalinan Al-Qur’an adalah industri yang melibatkan modal besar. Masyarakat Nusantara sangat selektif; mereka memilih kertas Eropa karena ketahanannya yang lebih baik terhadap iklim tropis dibandingkan kertas lokal untuk dokumen yang dianggap sakral.
3. Aspek Material: Kertas Eropa dan Jejak Globalisasi
Analisis terhadap manuskrip abad ke-17-19 mengungkapkan bahwa bahan baku sangat menentukan status sosial sebuah mushaf. Mushaf-mushaf mewah biasanya menggunakan kertas Eropa (Dutch atau Italian paper) yang diimpor melalui perusahaan dagang seperti VOC. Kertas ini memiliki daya tahan ratusan tahun. Sedangkan untuk kebutuhan pendidikan di perdesaan, penyalin menggunakan Daluwang yang dibuat dari pohon saeh.
Sementara untuk Tinta, digunakan warna hitam (jelaga) untuk teks utama, sedangkan tinta merah digunakan untuk kepala surat, tanda tajwid, atau bingkai teks. Di beberapa mushaf kerajaan, ditemukan penggunaan bubuk emas (gold leaf) untuk memperindah iluminasi pembuka (Surah Al-Fatihah dan awal Al-Baqarah).
Di Nusantara, penyalinan dilakukan di skriptorium istana atau di dalam kompleks pesantren. Penyalin (katib) biasanya memulai dengan ritual penyucian diri (wudhu) dan doa, menjadikan aktivitas menyalin Al-Qur’an sebagai bentuk ibadah taqarrub (mendekatkan diri kepada Tuhan).
4. Makna Simbolis Iluminasi sebagai Bentuk Reseptif
Secara teoritis, iluminasi pada Al-Qur’an Nusantara berfungsi sebagai “jembatan visual”. Masyarakat lokal yang pada saat itu masih dalam proses transisi budaya dari Hindu-Buddha ke Islam, melihat ornamen yang akrab (seperti teratai atau ukiran kayu) di sekeliling ayat suci. Hal ini membuat teks Al-Qur’an terasa lebih “dekat” dan tidak asing.
Iluminasi ini juga berfungsi sebagai penanda pembagian teks. Di Nusantara, tanda Juz, Sajdah, dan Ruku’ sering dihias dengan ornamen bunga yang mekar, yang secara filologis disebut sebagai marginalia. Ini memudahkan pembaca dalam menavigasi teks di tengah keterbatasan teknologi percetakan pada masa itu.
Ragam hias pada mushaf Nusantara adalah bukti paling otentik dari akulturasi budaya. Berbeda dengan mushaf Timur Tengah yang sangat kaku dengan pola geometris abstrak, mushaf Nusantara lebih dinamis.
- Motif Flora: Bunga melati, teratai, dan suluran daun sering ditemukan pada mushaf Melayu. Dalam tradisi lokal, tanaman-tanaman ini melambangkan kesucian dan kelembutan.
- Motif Geometris Lokal: Di Jawa, pengaruh pola gunungan atau ornamen ukir kayu diaplikasikan ke dalam bingkai ayat.
- Warna: Penggunaan warna memiliki makna simbolis. Kuning di Sumatera sering diasosiasikan dengan kemuliaan sultan, sementara hijau di Jawa melambangkan kesuburan dan kedamaian Islam.
Fenomena ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an tidak dianggap sebagai benda asing yang kaku. Melalui iluminasi, masyarakat Nusantara “membumikan” wahyu yang turun di padang pasir ke dalam alam tropis yang rimbun.
Pada abad ke-18 dan ke-19, manuskrip Al-Qur’an bukan hanya alat ibadah, tetapi juga simbol legitimasi politik. Seorang Sultan yang memiliki koleksi mushaf indah dianggap sebagai penjaga agama (Zhilullah fil ‘Alam). Distribusi mushaf terjadi melalui:
- Hadiah Diplomatik: Antar kerajaan Islam di Nusantara sering bertukar manuskrip sebagai simbol persaudaraan.
- Wakaf: Banyak mushaf yang disalin untuk diwakafkan ke masjid-masjid besar atau pesantren, guna memastikan kelangsungan pendidikan Islam.
Memasuki akhir abad ke-19, tradisi penyalinan tangan mulai tergeser oleh teknologi cetak (litografi). Hal ini menyebabkan penurunan kualitas artistik iluminasi, namun mempercepat penyebaran Al-Qur’an ke lapisan masyarakat yang lebih luas. Saat ini, ribuan manuskrip tersebut tersebar di berbagai museum (seperti Museum Nasional Indonesia) dan koleksi pribadi, yang membutuhkan perhatian serius dari para filolog untuk penyelamatan data digitalnya.
D. Kesimpulan
Resepsi Al-Qur’an di Nusantara pada abad ke-17 hingga 19 mencerminkan keberhasilan integrasi antara ajaran universal Islam dengan identitas lokal. Melalui kajian filologi dan sejarah, kita melihat bahwa mushaf Nusantara adalah produk peradaban yang canggih. Ia bukan sekadar salinan teks, melainkan artefak budaya yang merekam jejak estetika, teknologi kertas, dan spiritualitas bangsa Melayu-Indonesia. Memahami sejarah manuskrip ini berarti menghargai bagaimana leluhur kita memuliakan Al-Qur’an dengan cara yang sangat kontekstual dan indah.
Daftar Pustaka
Azra, Azyumardi. (2004). Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII. Jakarta: Kencana.
Behrend, T. E. (1993). Manuscript Production in Nineteenth-Century Java. BKI (Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde).
Behrend, T. E. (1996). The Library of Bequest: Manuscripts of the Surakarta Courts. Archipel.
Fathurahman, Oman. (2015). Filologi Indonesia: Teori dan Metode. Jakarta: Prenadamedia Group.
Gallop, A.T. (2004). The Art of the Qur’an in Southeast Asia. Dalam Proceedings of the International Conference on Quranic Manuscripts.
Gallop, A.T. (1991). Golden Letters: Writing Traditions of Indonesia. British Library.
Gallop, A. T. (2005). The Art of the Qur’an in Banten. Indonesia and the Malay World.
Gallop, A. T., & Baker, B. (1991). Golden Letters: Writing Traditions from Indonesia. British Library.
Gacek, A. (2009). Arabic Manuscripts: A Vademecum for Readers. Brill.
Heere, H. (2008). The Javanese Manuscript Tradition. KITLV Press.
Katalog Manuskrip Nusantara. Koleksi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.
Plomp, M. (1993). Traditional Bookbindings from Indonesia. Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde.
Pudjiastuti, T. (2002). Naskah dan Tradisi Tulis Nusantara. Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI.
Pudjiastuti, T. (2006). Naskah dan Kajian Nusantara. Jakarta: Wedatama Widya Sastra.
Ricklefs, M. C. (2001). A History of Modern Indonesia since c. 1200. Stanford University Press.
Ricklefs, M. C. (2008). A History of Modern Indonesia since c. 1200. Palgrave Macmillan.
Zuhdi, S. (2014). Sejarah Lokal: Metodologi, Teori, dan Praktik. Jakarta: Rajawali Pers.
Zuhdi, S. (2018). Bogani dan Kebangkitan Islam di Nusantara. Jakarta: Kompas.
Link PDF: Resepsi Al-Qur’an di Nusantara: Sejarah Manuskrip dan Tradisi Penyalinan Abad ke-17 hingga 19








