Oleh: Asy-Syaikh Abdul Muhsin bin Muhammad Al-Qasim *)
Related Post: Pustaka Online Kitab Kuning
MAJELISILMU.COM – Bagaimana Cara Menghafal Matan-Matan?
- Jika matan yang dihafal termasuk dari matan-matan hadits, maka janganlah menghafal lebih dari tiga hadits setiap hari.
- Jika matan yang dihafal adalah selain sya’ir, maka janganlah menghafal lebih dari tiga baris setiap hari.
- Jika matan yang dihafal adalah sya’ir, maka janganlah menghafal lebih dari tiga bait setiap hari. Dengan metode yang hati-hati ini maka materi yang dihafal akan menjadi kokoh.
Cara menghafalnya adalah engkau mengulang bagian yang ingin dihafal sebanyak 20 kali setelah shalat Shubuh misalnya. Setelah shalat ‘Ashar engkau ulangi kembali sebanyak 20 kali. Misalnya, seandainya engkau menghafal Alfiyah Ibn Malik, maka sebelum engkau mulai menghafal bait-bait yang baru, bacalah tiga bait yang telah engkau hafal kemarin sebanyak 20 kali. Kemudian bacalah dengan hafalan (tanpa melihat matan) dari awal Alfiyah sampai ke tempat hafalan baru.
Demikian caranya, engkau ulang setiap hari sehingga materi yang dihafal menjadi kokoh. Jalankanlah metode ini pada setiap matan yang akan engkau hafal disertai dengan kehadiranmu yang rutin dalam pelajaran- pelajaran para ulama, menyertai mereka, serta bertanya tentang masalah-masalah ilmu yang masih terasa samar.
Dahulu Abu Ishaq Asy Syirazi mengulang pelajaran sebanyak 100 kali, sedangkan Ilkiya Al Harrasi mengulang sebanyak 70 kali.
Simaklah kisah berikut yang akan menjelaskan kepadamu bahwa sedikit mengulang merupakan sebab cepatnya seseorang lupa terhadap hafalannya.
Ibnul Jauzi berkata dalam kitab ‘Al Hats ‘ala Hifdhil ‘Ilm:
“Dan Al Hasan –yaitu Ibnu Abi Bakr An Naisaburi- telah menceritakan kepada kami bahwa ada seorang ahli fiqih yang mengulang hafalan pelajaran di rumahnya berkali-kali. Maka seorang perempuan tua yang berada di rumahnya berkata: “Demi Allah, sungguh aku telah menghafalnya.” Maka ahli fiqih itu berkata: ”Coba ulangi hafalan itu.”
Perempuan tua itupun mengulanginya. Beberapa hari kemudian, dia berkata kepada perempuan itu: “Wahai nenek, ulangilah hafalan pelajaran itu.” Perempuan itu berkata: ”Aku sudah tidak hafal lagi.” Ahli fiqih itu berkata: ”Aku terus mengulang-ulang hafalan itu agar aku tidak ditimpa oleh apa yang menimpamu (yaitu: lupa-pen).
Jadi, metode untuk menguatkan hafalan adalah dengan mengulang (muraja’ah). Tidaklah menghafal itu kecuali dengan mengulang. (*)
(* Tulisan ini dinukil dari Kitab “Afdhalu Thariqah li Hifdzil Qur’anil Karim”, yang disusun oleh Asy Syaikh Abdul Muhsin bin Muhammad Al Qasim, Imam Mesjid Madinah al-Munawwarah, dan diterjemahkan oleh Abu Ubaidillah Abdurrahim (Penerbit Mufid-Arabic Learning Centre).












