This Content Is Only For Subscribers
Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
MAJELISILMU.COM – Pernah membaca kitab Ensiklopedi Tafsir “At-Tahrir wat Tanwir”, karya Bin Asyur? Ya, Kitab al-Tahrir wa al-Tanwir memang merupakan karya mufassir kontemporer Ibn ‘Asyur, nama lengkapnya Syekh Muhammad Thahir Ibnu ‘Asyur, seorang ulama yang berasal dari bumi al-Khadra, Tunisia.
Siapa sebenarnya bin Asyur? Syekh Muhammad Thahir Ibnu ‘Asyur lahir dari keluarga yang agamis dan berpendidikan. Kakeknya adalah seorang Perdana Menteri Tunisia, bernama Muhammad Aziz bin Muhammad Habib bin Muhammad Thayyib bin Muhammad ‘Attar pada masanya.
Kitab tafsir Al-Tahrir wa al-Tanwir merupakan magnum opus Syekh Tahir Ibn ‘Asyur dalam bidang ensiklopedi tafsir yang sangat prestisius dan terkenal. Banyak para ulama dan mufassir Indonesia yang menjadikan kitab ini sebagai referensi penting dalam bidang kajian tafsir dan ilmu tafsir.
Di era modern saat ini, banyak kitab tafsir diterbitkan dalam corak kajian yang bervariasi. Misalnya, kitab tafsir yang bercorak adab al-ijtima’iy, yaitu tafsir yang menyingkap balaghah, keindahan al-Qur’an dan ketelitian redaksinya. Kemudian mengaitkan kandungan ayat-ayat al-Qur’an, Sunnatullah dan aspek muamalah dalam memberikan solusi atas problematika umat Islam masa kini.
Salah satu kitab tafsir yang bercorak adab al-Ijtima’iy adalah kitab al-Kasysyaf karya al-Zamakhsyari, yang menjadi rujukan bagi para mufassir, termasuk Ibnu ‘Asyur dengan banyak mengutip dari kitab al-Kasysyaf ini. Karena, kitab tersebut menjadi kitab terbaik jika dilihat dari corak adab al-ijtima’iy.
Ibnu ‘Asyur juga banyak mengutip penjelasan tafsir dari sisi linguistiknya yang merujuk pada kitab Tafsir al-Kasysyaf ini. Meskipun ia tidak sepenuhnya sependapat dengan apa yang dikemukakan oleh al-Zamakhsyari.
Dalam Kitab al-Tahrir wa al-Tanwir karya Ibn ‘Asyur, Ibn ‘Asyur fokus menjelaskan kepada umat manusia mengenai hal-hal yang akan membawa mereka kepada kebahagiaan di dunia dan akhirat. Tak hanya itu, ia pun ingin menjelaskan kebenaran, pelajaran dan akhlak mulia, kandungan balaghah (kebahasaan) dalam al-Qur’an, ilmu-ilmu dan maksud syari’at, serta pendapat para mufassir terhadap makna sejati yang disampaikan oleh al-Qur’an.
Cita-cita Ibnu Asyur ini sering diungkapkan kepada para sahabatnya, sembari meminta pertimbangan dan saran dari mereka. Sehingga, cita-cita mulia tersebut semakin lama semakin kokoh dan kuat. Demikianlah kemudian Ibnu Asyur menguatkan ‘azam-nya untuk menafsirkan al-Qur’an, dan memohon pertolongan dari Allah Swt dengan harapan semoga dalam ijtihad yang ditegakkannya dapat terhindar dari kesalahan dan kekeliruan.
Melalui karyanya, Syekh Tahir Ibnu ‘Asyur berusaha menempatkan diri sebagai penengah dan bersikap moderat terhadap perbedaan para ulama yang pada satu waktu sepaham dengan ulama lainnya, tetapi pada satu waktu lain berbeda pendapat.
Dalam muqaddimah Kitab al-Tahrir wa al-Tanwir, Ibnu Asyur mengungkapkan, “Dalam kitab tafsir ini, saya fokuskan untuk mengungkap setiap I’jazul Qur’an, kelembutan (sisi balaghah) bahasa Arab yang terkandung dalam untaian ayat al-Qur’an, dan menjelaskan uslub atau gaya bahasa dalam penggunaannya, juga menjelaskan hubungan antara satu ayat dengan ayat lainnya”.
Al-Qur’an adalah sebenar-benarnya petunjuk Allah kepada makhluk-Nya, kitab yang menjadi pemelihara peradaban. Ibnu ‘Asyur mengutip AlQur’an Surah An-Nahl: 89, “Sesungguhnya Allah SWT menurunkan al-Qur’an untuk kebaikan seluruh umat manusia, rahmat bagi mereka untuk sampai kepada apa yang Allah kehendaki. Allah Swt berfirman, Kami telah menurunkan kepadamu Kitab (al-Qur’an) sebagai penjelasan atas segala sesuatu, sebagai petunjuk, serta rahmat dan kabar gembira bagi orang yang berserah diri”.
Ya, Al-Qur’an hadir untuk memperbaiki kondisi individu, kolektif dan peradaban. Al-Qur’an adalah kitabullah yang memberikan nutrisi spiritual dan intelektual yang dibutuhkan manusia. Ibn ‘Asyur berkata, “Seandainya seorang Muslim kehilangan pengetahuan dan perlindungan Allah, dan hanya Al-Qur’an yang tersisa di antara mereka, niscaya mereka akan mencapai apa yang mereka butuhkan dalam urusan Dien mereka”.
Dalam karyanya al-Tahrir wa al-Tanwir, Ibnu ‘Asyur juga ingin mengungkapkan tentang pemahaman al-Qur’an berdasarkan persoalan-persoalan ilmiah yang tidak diungkap oleh ulama terdahulu. Namun, Ibnu ‘Asyur juga menggarisbawahi bahwa pandangannya tidak mutlak hanya dimiliki oleh ia sendiri, dan tidak menutup kemungkinan ulama-ulama lainnya juga berpandangan yang sama dengannya serta menulis tafsir dengan cara yang ia tempuh.
Mengenai metode yang digunakan dalam tafsir al-Tahrir wa al-Tanwir, Ibnu ‘Asyur menggunakan metode tahliliy dengan kecenderungan tafsir bi al-ra’yi. Dikatakan menggunakan metode tahliliy karena Ibnu ‘Asyur dalam menulis tafsirnya menguraikan ayat demi ayat sesuai dengan urutan yang tertera dalam mushaf.
Ibnu Asyur menjelaskan kata per kata dengan sangat detail mengenai makna kata, kedudukan, uslub (gaya bahasa Arabnya), serta aspek-aspek lainnya yang sangat luas. Misalnya ketika menjelaskan lafadz (الحمد لله) dalam Qs. al-Fatihah, Ibn ‘Asyur menghabiskan 14 halaman dengan penjelasan yang sangat rinci dan meluas.
Selanjutnya Ibnu Asyur membagi muqaddimahnya hingga panjang lebar ke dalam 10 bagian. Keseluruhan pengantarnya berisi tentang landasan pemikiran tentang Ilmu Al-Qur’an, yaitu:
- Membahas Tafsir dan Ta’wil;
- Membahas tentang ilmu bantu tafsir;
- Membahas keabsahan tafsir selain bi al-ma’tsur, sekaligus makna tafsir bi al-ra’yi;
- Membahas tujuan tafsir;
- Membahas asbabun nuzul;
- Membahas tentang Qira’at;
- Membahas tentang kisah-kisah dalam al-Quran;
- Membahas Hubungan Nama-nama al-Qur’an beserta ayat-ayat dan surat-suratnya serta tartib surat;
- Membahas tentang makna global al-Qur ‘an;
- Membahas tentang i’jaz al-Qur’an.
Kitab tafsir al-Tahrir wa al-Tanwir memuat banyak analisa kebahasaan. Karena faktanya, selain menjadi Mufassir, Ibnu ‘Asyur pun seorang ahli Bahasa Arab. Beliau banyak memberi keterangan dengan keindahan bahasa serta gramatika bahasa. Maka tak heran jika kitab tafsir karya Ibnu ‘Asyur ini pula menjadi rujukan para ulama tafsir, khususnya dalam hal analisa bahasa dari ayat-ayat Al-Qur’an.
Ibnu ‘Asyur pernah berkata, “Saya benar-benar berusaha menafsirkan dalam tafsir Al-Qur’an mengenai hal-hal langka yang belum digarap oleh ulama tafsir lainnya”. Hal inilah yang membuat kitab tafsir karyanya menampilkan “sisi lain” dari al-Qur’an, peran penting dalam keilmuan tafsir kontemporer.
Budaya kritisme dalam kitab tafsir karya Ibnu ‘Asyur sangat hidup dan harus dikembangkan. Dengan gayanya yang khas, tafsir ini telah menyumbangkan beberapa pemikiran yang sangat inovatif dan berkemajuan. Abdul Mustaqim dalam karyanya Epistemologi Tafsir Kontemporer, menyampaikan bahwa paradigma tafsir kontemporer meniscayakan kritisme, objektivitas, dan keterbukaan.
Dalam arti lain dapat dipahami bahwasanya produk penafsiran itu tidaklah kebal dari kritik. Tak hanya itu, salah satu ciri penafsiran kontemporer adalah penafsiran non-sekterian atau dengan kata lain seorang penafsir tidak boleh terjebak dalam kungkungan mazhab atau kelompok tertentu. Ibnu ‘Asyur dinilai sebagai ulama yang objektif, meskipun menganut mazhab Maliki, tetapi ia tetap menekankan budaya objektivitas dalam karyanya.
Salah satu sikap objektif yang ditunjukkan Ibnu ‘Asyur dalam kitabnya al-Tahir wa al-Tanwir adalah tatkala beliau menarjih (mengunggulkan) madzhab yang berseberangan dengan mazhabnya sendiri dan inilah salah satu kontribusi Ibnu ‘Asyur dalam pengembangan ilmu tafsir. Bahwa seorang penafsir sah-sah saja menganut suatu mazhab asalkan mengetahui dalil-dalil dari suatu hukum atau suatu pandangan dari mazhab yang dianutnya serta selalu melakukan penelitian ulang dan memilih pendapat yang paling benar berdasarkan dalil-dalil yang ada.
Kitab tafsir al-Tahrir wa al-Tanwir nyatanya merupakan salah satu kitab tafsir yang penting untuk dikaji oleh para pengkaji tafsir dan ilmu-ilmu al-Qur’an. Selain itu, asumsi dasar penafsiran serta pedoman penafsiran yang digagas oleh Ibnu ‘Asyur dalam kitab tafsirnya pun bisa menjadi pijakan ulama-ulama kontemporer dalam menulis karya tafsir. Di dalam kitabnya Ibnu ‘Asyur banyak memuat berbagai macam pembahasan, mulai dari bahasa, fikih, filsafat, dan lain-lain.
Akhirul Kalam, Kitab Tafsir al-Tahrir wa al-Tanwir karya Ibn ‘Asyur ini merupakan mata air keilmuan, sebagaimana kata Syekh Salim Abu ‘Ashi, bahwasanya kitab Tafsir karya Ibnu ‘Asyur adalah kitab tafsir terbesar dan terlengkap — sebuah ensiklopedi tafsir. Oleh karena itu, kitab ini harus menjadi pegangan para pelajar, santri dan sarjana muslim masa kini dalam belajar dan memahami al-Qur’an. (*)
(* Muhammad Farid Wajdi, Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Pangkep, Sulsel.












