Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
Related Post: Mandzumah Al-Laamiyyah dan Terjemahnya
MAJELISILMU.COM – Manzhumah (المنظومة) berasal dari kata nazhoma (نظم). Makna bahasa nazhoma adalah menyusun. Makna istilahnya adalah menggubah puisi. Jadi, pengertian mudah manzhumah adalah puisi (sebagai hasil aktivitas menggubah). Orang yang membuat manzhumah disebut nazhim (الناظم).
Yang menerjemahkan nazhim disebut Penazam, bahkan kadang disebut ‘Syaikh Penazam”. Untuk istilah puisi, sebetulnya ada istilah yang lebih populer dalam Sastra Arab yaitu Asy-Syi’ru (الشعر) yang diserap menjadi kata syair dalam bahasa Indonesia.
Berikut ini Mandzumah al-Laamiyah yang dikarang oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, yang mengungkapkan tentang Aqidah dan Manhaj Salaf, sahabat nabi dan keutamaannya, dan Al-Qur’anul Karim. Pada bait ke-6-9, menjelaskan tentang masalah nama dan sifat Allah adalah Tauqifiyyah [hanya berpatokan pada dalil], manhaj para salaf dalam memahami sifat-sifat Allah dan wajibnya berpegang teguh pada Al-Qur’an dan As-Sunnah.
يا سَائِلي عَنْ مَذْهَبِي وعَقيدَتِي [1] رُزِقَ الهُدى مَنْ لِلْهِدايةِ يَسْأَل
Wahai orang yang bertanya tentang madzhab dan aqidahku, (semoga) diberi anugrah petunjuk orang yang bertanya tentang hidayah. (1)
اسمَعْ كَلامَ مُحَقِّقٍ في قَـولـِه [2] لا يَنْـثَني عَنـهُ ولا يَتَبَـدَّل
Dengarkanlah pembicaraan ahli tahqiq di dalam perkataannya, dimana Ia tidak pernah mundur dan berubah daripada perkataannya. (2)
حُبُّ الصَّحابَةِ كُلهمْ لي مَذْهَبٌ [3] وَمَوَدَّةُ القُرْبى بِها أَتَوَسّــل
Mencintai sahabat seluruhnya merupakan madzhabku, dan memberikan loyalitas kecintaan kepada kerabat nabi dengan itu aku mendekatkan diri kepada Allah. (3)
وَلِكُلِّهِمْ قَـدْرٌ علا وَفَضْائلٌ [4] لكِنَّما الصِّديقُ مِنْهُمْ أَفْضَـل
Dan setiap mereka memiliki kedudukan dan keutamaan yang sangat terang, tetapi Abu Bakr As-siddiq yang paling utama diantara mereka. (4)
وأقول في القُرآنِ ما جاءَتْ بِـهً [5] آياتُـهُ فَهوَ الكريـمُ المُنْـزَلُ
Dan aku menetapkan tentang Al-Qur’an, seluruh yang ayat-ayat datang dengannya, maka ialah Al-Qur’an Mulia yang diturunkan. (5)
وأقول قال الله جل جلا له [6] والمصطفى الهادي ولا أتأول
Aku katakan : Allah Jalla jalaluhu berfirman, dan aku katakan: Al-Musthofa yang memberikan petunjuk bersabda, dan aku tidak mentawilnya. (6)
وجميعُ آياتِ الصِّفاتِ أُمِرُّهـا [7] حَقـاً كما نَقَـلَ الطِّرازُ الأَوَّلُ
Dan seluruh ayat-ayat (yang menerangkan) sifat (Allah), aku membiarkannya (dengan menyucikan Allah dari apa-apa yang tidak layak dengan-Nya, dan menetapkan maknanya).
Dengan sebenar-benarnya (baca: hakikatnya) sebagaimana yang dnukil oleh generasi yang pertama (yaitu para ulama, salafush sholih). (7)
وأَرُدُّ عُهدتَـهـا إلى نُقَّالِهـا [8] وأصونُها عـن كُلِّ ما يُتَخَيَّلُ
Dan aku kembalikan pertanggungjawabanya kepada para perawi (yang menukil)nya. Dan aku menjaga sifat-sifat tersebut dari setiap khayalan. (8)
قُبْحاً لِمَنْ نَبَذَ القران وراءَهُ [9] وإذا اسْتَدَلَّ يقولُ قالَ الأخطَلُ
Kejelekanlah bagi orang-orang yang membuang Al-Kitab dibelakangnya. Jika dia berdalil maka dia berkata : Telah berkata si Akhthol. (9)
والمؤمنون يَـرَوْنَ حقـاً ربَّهُمْ [10] وإلى السَّمـاءِ بِغَيْرِ كَيْفٍ يَنْزِلُ
Dan orang-orang yang beriman sungguh benar-benar akan melihat Rabb mereka. Dan Allah turun ke langit dengan tidak dibagimanakan. (10)
وأُقِر بالميـزانِ والحَوضِ الذي [11] أَرجـو بأنِّي مِنْـهُ رَيّاً أَنْهَـلُ
Dan aku menetapkan timbangan dan telaga yang aku berharap supaya aku minum darinya dalam keadaan sepuas-puasnya. (11)
وكذا الصِّراطُ يُمَدُّ فوقَ جَهَنَّمٍ [12] فَمُسلم نَـاجٍ وآخَـرَ مُهْمـلُ
Demikian pula aku menetapkan adanya shirot (jembatan) yang dibentangkan di atas Jahannam. Maka ahli tauhid akan selamat dan yang lainnya akan terjatuh (ke neraka). (12)
والنَّارُ يَصْلاها الشَّقيُّ بِحِكْمَةٍ [13] وكذا التَّقِيُّ إلى الجِنَانِ سَيَدْخُلُ
Neraka akan dimasuki oleh orang yang celaka, dengah hikmah. Demikan pula, surga-surga akan dimasuki oleh orang yang bertaqwa. (13)
ولِكُلِّ حَيٍّ عاقـلٍ في قَبـرِهِ [14] عَمَلٌ يُقارِنُـهُ هنـاك وَيُسْـأَلُ
Dan setiap orang hidup, berakal di kuburnya, disana amal akan menemaninya dan akan ditanya. (14)
هذا اعتقـادُ الشافِعيِّ ومالكٍ [15] وأبي حنيفـةَ ثم أحـمدَ ينْقـلُ
Inilah keyakinan yang dinukil dari As-Syafi’i, Malik, Abu Hanifah, dan Ahmad. (15)
فإِنِ اتَّبَعْتَ سبيلَهُمْ فَمُوَفق [16] وإن ابْتَدَعْتَ فَما عَلَيْكَ مُعَـوَّل
Jika engkau mengikuti jalan mereka maka engkau seorang diberikan taufik, dan jika kamu berbuat bid’ah maka tidak ada penolong bagimu. (16)
Pada bait ke-10-14, sebagaimana telah disebutkan diatas, menjelaskan tentang Beriman dengan Ru’yah dan sifat nuzul bagi Allah (bait 10), Penetapan adanya timbangan dan telaga di Akherat (bait 11), Mengimani adanya jembatan di Akherat (bait 12), Mengimani adanya Surga dan Neraka (bait 13).
Pada bait ke-14-16, sebagaimana telah disebutkan diatas, menjelaskan tentang mengimani adanya Adzab dan Nikmat Kubur (bait 14), Aqidah Imam Madzhab yang Empat (bait 15), dan Tercelanya Kebid’ahan (bait 16).
Demikianlah Mandzumah Laamiyah yang disusun oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah yang terdiri atas 16 bait. Barakallahu fiikum. (*)
(* Muhammad Farid Wajdi, Guru Al-Qur’an-Hadits/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep.












